Media Diminta Waspada Hoaks dan Manipulasi Opini di Era Digital

Jakarta – Perkembangan teknologi informasi dinilai membawa tantangan besar bagi dunia media, terutama menjelang kontestasi politik dan pemilu di masa depan.

Guru Besar Ilmu Pemerintahan di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Albertus Wahyurudhanto, mengingatkan bahwa ekosistem informasi digital saat ini menghadapi tiga ancaman utama, yakni misinformation, disinformation, dan malinformation.

Hal tersebut disampaikan Albertus saat menjadi narasumber dalam Rapat Pimpinan Nasional Serikat Media Siber Indonesia yang digelar di Jakarta, Jumat (6/3).

Menurutnya, misinformation merupakan informasi yang salah tetapi disebarkan tanpa niat jahat. Sementara disinformation adalah informasi yang salah dan sengaja diproduksi untuk menipu publik.

Adapun malinformation merupakan informasi yang sebenarnya berbasis fakta, namun digunakan untuk menyakiti atau merugikan pihak lain, misalnya melalui penyebaran data pribadi tanpa kepentingan publik.

“Ketiga hal ini punya dampak yang sangat buruk, yaitu merusak integritas demokrasi, memecah kohesi sosial, dan menurunkan kepercayaan publik terhadap media maupun penyelenggara pemilu,” ujarnya.

Albertus menjelaskan bahwa dunia media terus mengalami evolusi dari model tradisional menuju sistem yang semakin terintegrasi dan berbasis teknologi.

Pada tahap awal, media beroperasi secara terpisah antara media cetak, televisi, dan media daring. Namun dalam perkembangannya muncul konsep cross media, di mana satu jurnalis dapat menghasilkan konten untuk berbagai platform sekaligus.

Seiring perkembangan teknologi, sejumlah media bahkan mulai membangun lembaga riset internal untuk menghasilkan data dan analisis independen guna memperkuat kualitas pemberitaan.

Menurut Albertus, saat ini dunia media telah memasuki era baru yang sangat dipengaruhi oleh teknologi digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

AI tidak hanya dimanfaatkan oleh akademisi, tetapi juga mulai digunakan oleh berbagai media besar untuk memantau sumber informasi global, merangkum data berita, hingga membantu redaksi menentukan isu yang layak menjadi tajuk utama.

“Sekarang dalam hitungan menit AI bisa merangkum berbagai berita internasional dari banyak sumber, lalu membantu redaksi menentukan isu yang paling menonjol,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penggunaan teknologi tersebut tetap memiliki risiko jika tidak diimbangi dengan proses verifikasi yang ketat.

“Algoritma bisa saja keliru. Karena itu verifikasi tetap menjadi kunci utama dalam kerja jurnalistik,” tegasnya.

Albertus menilai tantangan terbesar media menjelang pemilu mendatang adalah menjaga keseimbangan antara kecepatan dan akurasi informasi.

Tekanan untuk memproduksi berita secara cepat demi mengejar trafik dan klik dinilai berpotensi memicu penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Selain itu, ia juga menyoroti fenomena echo chamber atau ruang gema di media sosial, di mana publik cenderung hanya mengonsumsi informasi yang memperkuat pandangan politiknya sendiri.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperparah polarisasi politik di tengah masyarakat.

“Ketika orang sudah memiliki preferensi politik tertentu, maka informasi yang bertentangan dengan keyakinannya akan dianggap salah, sementara informasi yang mendukungnya dianggap benar,” katanya.

Ia juga mengingatkan adanya praktik manipulasi opini publik melalui penggunaan akun robot, komentar otomatis, serta rekayasa konten audio maupun visual yang dapat menyebarkan propaganda secara masif dalam waktu singkat.

Dalam konteks tersebut, Albertus menegaskan bahwa media memiliki peran strategis dalam menjaga kualitas demokrasi.

“Media bukan sekadar penyampai informasi. Media adalah bagian dari infrastruktur politik yang menghubungkan figur politik dengan publik,” ujarnya.

Karena itu, media dinilai memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan ruang publik tetap rasional, terbuka, dan berbasis informasi yang akurat.

Ia menambahkan bahwa media online kini menjadi penopang utama ruang publik karena memiliki jangkauan luas serta mampu menyebarkan informasi dengan cepat tanpa batas geografis.

Namun di tengah persaingan trafik dan tuntutan kecepatan, media tetap harus menjaga etika jurnalistik serta memastikan setiap informasi telah diverifikasi secara benar.

“Tantangan media hari ini adalah menggabungkan kecepatan dengan akurasi, kreativitas dengan etika, serta kompetisi trafik dengan tanggung jawab publik,” kata Albertus.

Menurutnya, kualitas demokrasi di masa depan sangat bergantung pada kemampuan media menjaga integritas informasi dan mencegah penyebaran disinformasi di ruang publik.

Post a Comment

To be published, comments must be reviewed by the administrator *

أحدث أقدم